------------ iklan disini

Fungsi Utang Sebagai Penyelamat, Bukan Sekadar untuk Senang-senang

------------ iklan disini

Masyarakat Indonesia semakin gemar berutang. Pasalnya, produk utang atau yang juga jamak disebut kredit terus laku di pasaran dan transaksinya cukup meningkat. Data dari Bank Indonesia, sepanjang 2018 nominal transaksi menggunakan kartu kredit mencapai Rp 284,06 triliun. Capaian tersebut meningkat 5% secara year on year (yoy) dibandingkan posisi yang sama pada tahun lalu, dengan nominal transaksi Rp 270,53 triliun.

Ada berbagai faktor yang membuat banyak orang tertarik berutang. Salah satunya adalah karena mudahnya proses pembuatan kartu kredit dan fasilitas kredit, seperti pembayaran (cicilan) secara minimum yang ditawarkan. Hal ini tak mengherankan mengingat sekarang apa pun bisa dikreditkan — dari smartphone canggih sampai paket wisata liburan.
Utang untuk senang-senang?
Dari banyaknya orang Indonesia yang berutang, ada sebagian dari mereka yang berutang untuk bersenang-senang. Misalnya, liburan mewah atau memberi barang-barang mahal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Meski begitu, bijakkah berutang untuk hal-hal yang bersifat leisure atau kesenangan semata? Meski bukan sesuatu yang dilarang, berutang untuk hal yang bersifat senang-senang tidak disarankan. Utang semestinya hanya digunakan untuk sesuatu yang bersifat mendesak atau memang karena kebutuhan yang akan berdampak pada produktivitas seseorang.
Contohnya, berutang untuk membayar biaya pengobatan ketika sakit melanda karena dana cadangan tak cukup, berutang untuk mengembangkan suatu usaha atau bisnis, atau berutang untuk membeli barang guna meningkatkan produktivitas kerja seperti laptop atau sepeda motor.

Cara berpikir inilah yang perlu diedukasikan di Indonesia. Pasalnya, berutang untuk hal yang tidak penting kerap membuat seseorang menjadi sangat konsumtif dan cenderung boros. Orang yang sudah konsumtif dan boros dalam hidupnya pasti tidak bisa mengontrol keinginan atas pengeluaran.
Dalam pengelolaan pengeluaran dan penghasilan, pengeluaran sering kali menjadi tidak terkendali untuk keinginan padahal kebutuhannya belum terlaksana. Contoh sederhananya, uang sudah habis untuk hang out; makan di restoran fancy, dan menonton film setiap minggu, padahal uang untuk membayar listrik, makan, dan transportasi sebulan belum dianggarkan. Akibatnya, ketika tiba saat bayar listrik atau kebutuhan utama lainnya, tidak ada dana cadangan. Maka mau tidak mau harus berutang. Tidak heran kita sering melihat kasus seseorang yang dililit hutang karena alasan yang kurang penting.

BACA JUGA  Kebumen jadi smart city

[SUMBER KUMPARAN]

Facebook Comments / Beri tanggapan dengan facebook anda.
------------ iklan disini

BERI KOMENTAR ARTIKEL INI...

------------ iklan disini footer
Lewat ke baris perkakas